Al Quran diturunkan kepada
Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di
turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan
malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah
dan beliaupun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al
Baqarah (2) : 9
قل من كان عدوّا لّجبريل فإنّه نزّله، على قلبك بإذن
اللهِ مصدّقا لّما بين يديه وهدى وبشرى للمؤمنين
Katakanlah:
“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya
(Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab)
yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.”
Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu
kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering,
batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang
ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian
Al Qur’an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami
dengan menghafal. Bukan dengan sekedar membaca.
Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi
peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal
Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai
khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah
engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?” ujar beliau.
Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi
kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya Abu Bakarpun dapat
diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.
Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah
untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah
engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?”. Tapi
akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar
di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun
disimpan di rumah Hafsah.
Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan,
Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain
disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Jadi pada saat itu para shahabat,
tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah
Mushaf yang sangat sedikit.
Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila
kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada
berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang
menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung
dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.
Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri
dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al
Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita
tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.
Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu
menghafal ? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ?
Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa” (atau zauk) yang
diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca
berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan”
untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu
diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al
Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.
Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal
Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan
menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita
hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya.
Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan
mengulang-ulangnya.
Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan
membaca „buta” Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan
pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para
penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual
juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari
firman-firmanNya.
Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi
hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa
menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan
memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ? Dan banyak diantara kaum
muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al
Quran.
Al Quran diturunkan kepada
Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di
turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan
malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah
dan beliaupun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al
Baqarah (2) : 9
Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering, batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian Al Qur’an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami dengan menghafal. Bukan dengan sekedar membaca.
Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?” ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya Abu Bakarpun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.
Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?”. Tapi akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun disimpan di rumah Hafsah.
Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Jadi pada saat itu para shahabat, tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah Mushaf yang sangat sedikit.
Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.
Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.
Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu menghafal ? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ? Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa” (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan” untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.
Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan mengulang-ulangnya.
Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca „buta” Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari firman-firmanNya.
Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ? Dan banyak diantara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.

0 komentar:
Posting Komentar